Teknologi Waste to Energy


Teknologi Waste To Energy

oleh Yayasan Sumber Ilmu

 

 

Di zaman global ini, banyak ilmuwan-ilmuwan yang menciptakan berbagai teknologi untuk mengurangi dampak kerusakan yang diakibatkan oleh sampah. Salah satu teknologinya adalah teknologi Waste to Energy (WtE). Di mana sampah yang semula hanyalah barang buangan kini bisa dijadikan sebagai bahan baku alternatif penghasil energi.

Strategi yang digunakan dalam penerapan teknologi WtE pun berbeda. Semula penanganan sampah dilakukan karena alasan kesehatan dan lingkungan. Kini pemanfaatan sampah dilakukan karena sampah mampu menghasilkan uang dengan cara daur ulang, mengubahnya menjadi bahan baku energi alternatif atau pun kompos. Dan pada saat yang sama cara tersebut mampu menangani permasalahan kesehatan dan lingkungan.

Jenis teknologi WtE antara lain adalah anaerobic digestion (AD), landfill gas recovery (LFG), insenerasi konvensional, pyrolysis, dan gasification. Teknologi yang telah dikembangkan oleh Yayasan Sumber Ilmu ialah teknologi anaerobic digestion(AD), pirolisis. sedangkan landfill gas recovery (LFG)masih dalam tahap ujicoba.

Teknologi Landfill Gas Recovery (LFG) dan anaerobic digestion adalah proses dekomposisi biokimia dari materi organik limbah biomassa basah tak beroksigen yang menghasilkan biogas dan pupuk kaya oksigen.      Teknologi WtE ini dapat menghasilkan biogas yang bisa dibakar langsung di dalam boiler gas sehingga mampu mengahasilkan panas atau listrik apabila dibakar di dalam turbin uap atau pun CHP (gabungan panas dan unit daya). Dengan menghilangkan kandungan karbondioksida dan zat lain di dalam biogas, biogas ini bisa diproses lebih lanjut menjadi biometan.  Gas biometan ini dapat disalurkan ke dalam jaringan gas dengan cara penggunaan yang sama pada gas alam.

Sedangkan teknologi pirolisis adalah proses pemanasan plastik dalam wadah kedap udara dengan temperatur antara 300 0C hingga 900 0C. Uap panas yang dihasilkan kemudian dialirkan ke dalam kondensor. Dari proses ini akan dihasilkan arang, minyak dan gas. Minyak ini  terdiri dari senyawa parafin, isoparafin, olefin, naphthene dan aromatik yang merupakan komponen dari Bahan Bakar Minyak.

 Teknologi anaerobic digestion (AD) atau biogas digester telah dibangun di beberapa desa, di antaranya di Kp. Langkob Des. Bojongsalam Kec. Rongga Kab. Bandung Barat oleh Yayasan Sumber Ilmu bekerja sama dengan PT. PLN (DJBB)  tahun 2011. Sedangkan teknologi pirolisis, YSI berhasil menciptakan satu alat destilasi plastik dengan kapasitas 15 kg sampah plastik yang menghasilkan 7 liter minyak pirolisis dengan waktu proses selama empat jam menggunakan bahan bakar gas elpiji. Tujuan utama pengolahan sampah plastik menjadi minyak pirolisis adalah untuk mengurangi sampah plastik yang ditimbun di TPA atau yang dibuang di sembarang tempat. Alat destilasi plastik ini telah dipamerkan di berbagai acara, salah satunya acara Earth Hour 60+ di Gedung Sate Bandung, Jawa Barat pada tanggal 25 Maret 2017. Dari hasil pameran tersebut banyak pertanyaan dari masyarakat mengenai nilai ekonomis alat destilasi minyak plastik tersebut. Maka saat ini YSI sedang mengembangkan alat destilasi tersebut menjadi suatu alat yang tidak hanya mengurangi timbunan sampah plastik, namun juga mampu menghasilkan nilai ekonomis dari minyak pirolisis tersebut.

Berikut adalah dokumentasi YSI dalam mengembangkan teknologi Waste to Energy.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: